Selasa, 14 Juli 2015

Visit Salatiga

Saya lahir di kota ini, hawanya sejuk, dahulu kala udaranya bersih banget karena belum banyak kendaraan bermotor. Sekarang suasananya masih asri dan sejuk sih kalo dibandingkan Semarang, hehehe.

Jaman saya kecil di desa Nalen, penduduknya masih menggunakan WC umum diatas empang yang isinya lele atau ikan bawal, ada pancuran untuk mandi tidak jauh dari situ, jadi pada mandi bareng-bareng gitu. Air nya jernih banget kaya air Aqua.

Karena kecintaan kakekku terhadap budaya jawa, maka di rumahnya ada satu set gamelan, rumahnya pun masih asli bangunan dari jaman penjajahan belanda dulu, masih dari dari kayu, genting tanah liat, halaman di beri ubin dari batu gunung. Pemandangannya wahhh….luar biasa masih hijau…. Di Semarang mana ada beginian…




Salah satu tempat wisata yang bisa dikunjungi dari Salatiga adalah Taman Pancasila, mungkin seperti simpang lima kalau di Semarang. Ada banyak tempat makan dengan jualan yang unik-unik, ada persewaan sepeda yang ada lampunya, tempat yang lumayan buat nongkrong di malam hari...

Salib Putih
Agrowisata dan camping ground Salib Putih bisa menjadi salah satu alternatif untuk menghabiskan waktu liburan. Tempatnya seru, ada isa memilih istirahat di kamar yang menurutku kamarnya cukup lumayan, mirip hotel bahkan, fasilitas kamar mandi, tv, dll juga ada. Atau anda bisa memilih tidur di tenda, seru kan. Tenda nya juga bagus kok, empuk lantainya, kain terpalnya juga kuat, tahan hujan tapi kalau menjelang pagi dingin banget, kalau tidak tahan dingin jangan tidur di tenda
Tidak kalah dengan Banaran Resort, disini juga ada kebun kopi, kita bisa bisa berjalan-jalan di kebun kopi lalu setelah itu bisa mencicipi kopi kopi hangat disini. Kita juga bisa menikmati susu segar juga disini sambil jalan-jalan di taman belakang ada kebun bunga bougenvil. Seru banget.









Stasiun lama Tuntang, ini stasiun yang sudah tidak digunakan lagi sepertinya. Bangunannya kuno dan keren sekali, kita bisa jalan-jalan atau foto2 untuk prewedding juga bisa, gratis. Dan bisa bersantai-santai disini tanpa takut tertabrak kereta api. hihii






Rabu, 08 Juli 2015

MOBIL WEDDING

Mobil wedding adalah salah satu pelengkap sebuah acara pernikahan. Sebenarnya tidak wajib sih untuk memakai atau menyewa mobil wedding yang mahal dan mewah. Kembali lagi ke fungsi, tujuannya kan untuk transportasi, yaitu membawa mempelai dengan selamat sampai tujuan, misal ke gereja atau tempat acara resepsi

Sebelum saya memutuskan memakai mobil apa saat acara resepsi pernikahan, saya coba melihat-lihat di acara wedding expo, tiap mobil dibandrol dengan harga yang kadang tidak masuk akal, mahal sekali. Belum lagi karena hitungannya per 12jam atau per 24jam dan harganya itu bisa berjuta-juta tergantung merk mobil.

Untuk orang yang banyak uang sih mungkin tidak masalah, apalagi dengan alasan seumur hidup sekali, apa salahnya merogoh kocek agak dalam. Namun coba kupikir-pikir lagi, sayang uangnya mending buat yang lain, hehehe... misalnya liburan ke Bromo atau ke Karimunjawa

Maka dari itu saya mengakali dengan menghias mobil saya sendiri, hihihi. kalau yang lain menikah dengan naik mobil sewaan saya boleh cukup berbangga hati karena bisa naik mobil sendiri. Memang bukan yang mewah tapi kalo fungsinya hanya untuk mengantar sih si mobil cuma cukup oke, tinggal dipoles dikit aja biar makin sip.
Biar manis beli beberapa bunga di supermarket trus dihias dan ditempelkan ke mobil, di bantu bapak saya yang cukup kreatif.
Terimakasih Bapak

Selasa, 07 Juli 2015

Lost in Solo, Jawa Tengah

Sunan Hotel
Tahun 2012 kalo ga salah waktu itu ikut workshop pediatrik di Hotel Sunan, Solo. Kebanyakan acara medis diselenggarain disana sih. Tempatnya sih lumayan, petugasnya juga baik banget, waktu ke kamar mandi aku kan gampang banget tuh tersesat, hahaha. Jadi si Bell boy nya nganterin sampai ke toilet secara toiletnya tempatnya agak jauh dan berkelok-kelok. Dulu saya juga pernah tersesat dalam di Hotel Ciputra, bahkan di Hotel Pandanaran. Saya emang bingung-an.
Sekedar informasi di solo tidak ada taxi Burung Biru jadi agak bingung naik apa waktu di sini, untungnya petugas hotel dengan siap siaga mencarikan kita taxi, jadi bisa jalan-jalan lagi heheheh...
Memang lebih baik kalo ga ngerti jalan akan lebih aman naik taxi dari pada keliling2 ga jelas dan buang waktu diperjalanan. Karena ketika travelling ke kota lain, waktu itu lebih berharga dari pada uang, heheheh

Pasar malam Ngarsopuro
Sebuah pasar seni yang hanya diadakan pada sabtu malam (malam minggu). Di gelar disepanjang kawasan pasar Windujenar, di depan Pura Mangkunegaran di jalan Diponegoro.
tidak seperti pasar lainnya, barang-barang yang dijual disini cukup unik, ada guci2 lucu dan antik, kerajinan dari batik, fashion dll. Saya membili gelang dan kalung mutiara di sini, hihihi, murah harganya sodara, hahaha
Disini nyoba makanan khas disini yaitu cabuk rambak dan sate kere, enakkk








Keraton Surakarta
Berfungsi sebagai tempat tinggal Sri Sunan dan rumah tangga kerajaannya yang hingga saat ini masih menjalankan tradisi kerajaan. Terdapat museum yang menyimpan berbagai koleksi kerajaan, ada beberapa kereta, topi kebesaran, berbagai macam pemberian dari raja-raja Eropa, pusaka keraton, dan gamelan. Seru deh pokoknya. untuk masuk istana bagian dalam sebaiknya anda memakai sepatu, kalo pakai sandal nanti disuruh lepas. saya pake sepatu sandal, nah loh bingung abdi dalemnya...hehehe. Akan lebih baik kita menghormati Keraton ini, berpakaianlah yang sopan ya...


Bangunan gaya Eropa di Keraton Surakarta


Mencoba alat transportasi di Solo yang satu ini, BATIK Solo Trans

PGS (Pusat Grosir Solo)
Pusat perbelanjaan di daerah Gladag, hampir sebagian besar isinya adalah batik. ada yang harga pas, ada pula yang harus ditawar.
Di PGS yang paling atas ada tempat parkir, pusat jajanan dan ada tempat ibadahnya pula, cukup berangin di atas sini.
Di depan PGS ada penjual makanan yang lumayan lengkap mau apa aja juga ada, asal ga minta pizza aja dan harganya juga lumayan terjangkau.


Pusat Jajanan di PGS lantai atas, dekat tempat parkir

Montor Mabur

Montor Mabur begitu aku menyebutnya ketika masih kecil yang artinya mobil yang bisa terbang, orang-orang menyebutnya pesawat terbang.
Alat transportasi ini memang bisa dibilang cukup mengagumkan, bayangkan besi ber-ton2 beratnya bisa terbang, meski bisa dijelaskan secara ilmu fisika, namun menurutku ini alat transportasi yang cukup keren.

Dulu waktu masih SMP, bu Guru bertanya padaku "Apa yang tidak boleh dilakukan di dalam pesawat?" aku menjawab dengan polosnya "Tidak boleh membuka jendela". Bu Guru tertawa terbahak-bahak, aku jadi bingung, kata bu Guru "Hahaha, kamu belum pernah naik pesawat ya, besok kalau sudah naik pesawat kamu akan tahu bahwa jendela pesawat memang tidak bisa di buka"
Teman-teman sekelas tidak ada yang tertawa karena dari mereka memang belum ada yang pernah naik pesawat. maklum di jaman itu kami termasuk golongan yang belum cukup dikatakan mampu.

Pengalaman pertama naik pesawat cukup deg-degkan juga, untung paginya cerah, jadi penerbangan cukup lancar. Penerbangan ke Jakarta, pagi hari, melihat matahari pagi, awan, baca koran atau majalah dan sarapan di udara ini pengalaman yang cukup menyenangkan. Di dalam pesawat kita akan diberi sarapan, minumannya boleh pilih, ada beberapa jus, susu, kopi atau teh, pramugari yang baik hati akan menyiapkannya untuk anda.
Ternyata naik pesawat tidak murah sodara, apalagi kalau weekend.
Sesampainya di Jakarta, bandaranya besar banget ternyata, jalannya juga cukup jauh, tapi ada semacam eskalator di jalan datar di dalam bandara jadi ga capek, tinggal berdiri disitu ga usah jalan, hehehe.
Dari bandara udah dijemput sopir jadi enggak bingung.

Tapi waktu mau pulang ke Semarang nah itu perjuangan sekali, mulai dari kesasar di bandara karena bandara Soeta itu luas banget, datengnya gampang, mau perginya yang sulit. Karena bingung akhirnya makan dulu di bandara, biar ga hipoglikemi ini otaknya.
Menuju Semarang hujan, waaaooo, agak mengerikan naik pesawat di kala hujan, terdengar gesekan awan dengan badan pesawat, pesawat yang sampai miring-miring, aduhh maak, berdoa bisanya..
Akhirnya sampai di bandara Ahmad Yani, kita belum boleh turun dari pesawat, padahal pesawatnya udah landing.

Nunggu hampir sejam di pesawat, padahal bapak udah njemput di luar. Akhirnya di perbolehkan turun sambil diberi payung satu persatu penumpangnya. Hujan cukup lebat, bandara aja sampai banjir. Pesawat yang akan berangkat jadi delay semua, hehehe.
Akhirnya aku sudah dijemput, tapi yang njemput sekeluarga, ampuun deh kaya habis umroh aja dijemput banyak orang. Semoga suatu saat saya bisa mengajak seluruh keluarga saya naik pesawat.



Selasa, 09 Juni 2015

Pengobatan Gratis

Pengobatan Gratis adalah salah satu kegiatan rutin saya, dulu sudah pernah janji sih sama Tuhan, kalo saya jadi dokter saya akan menjadi alat Tuhan untuk menyembuhkan jutaan orang. Karena itu pengobatan masal atau pengobatan gratis ini adalah salah satu cara (media) untuk mengamalkan ilmu dan menyalurkan berkat kebaikan hati Tuhan.

Tapi dokter juga tidak mungkin sendirian, ada Tim yang kuat dan solid, serta tanpa pamrih yang berjuang keras untuk terwujudnya setiap acara ini.

Setiap perawat, bidan, administrasi, sie perlengkapan dan Farmasi dari Tim "BP Ayem". dulu namanya demikian, sekarang karena BP kami menjadi klinik BPJS maka berubah menjadi Klinik Pratama Ayem.
didirikam sejak tahun 2011 bulan april kalo ga salah, saya mulai bergabung pada tahun 2012 hingga sekarang.

Sebenarnya saya sudah berkeliling di klinik Gereja semenjak 2 tahun setelah saya lulus dokter, cuma disini saya yg paling awet. hihihi. Disini dibawah naungan GKJ Tlogosari Semarang. dan warga jemaatnya banyak yang pekerjaannya dibidang medis sehingga mempermudah jalannya pengobatan gratis. pengobatan Gratis diadakan 2x setahun.

Pengobatan Gratis di daerah Demak, Jawa tengah
cuacanya panas banget. sekitar 100pasien



Pengobatan Gratis, Cek Gula darah Gratis untuk 100pasien dan penyuluhan
Bersama Tim Klinik Pratama Ayem. Pasiennya banyak banget disini 200an. gempor nih tangan nulis resep, hihihi, tapi seneng



Pengobatan Gratis daerah Condrorejo bersama Tim Klinik Pratama Ayem, Semarang
Kawasannya deket rumah Tlogosari, dulunya kawasan banjir, peserta sekitar100-150pasien


Jumat, 27 Maret 2015

Survive di Era Antibiotik

Ditulis berdasarkan keprihatinan saya terhadap penggunaan antibiotik yang seperti kacang, asal telan kalo suka asal berhenti kalo suka, sok pinter beli obat sendiri layaknya sedang main dokter2an  

Seorang ibu datang memeriksakan anaknya yang berusia 4 tahun karena batuk pilek yang tak kunjung sembuh. Sang ibu mengatakan bahwa anaknya sudah minum obat antibiotik yang dibeli dari apotek, kata sang ibu “ini lho dok obat yang saya beli di apotek, obatnya mahal 1 tabletnya seharga tiga puluh lima ribu. Dulu waktu saya sakit saya diberi resep ini, lalu anak saya juga saya beri obat ini tapi dosisnya setengah”. Betapa kagetnya saya ketika saya lihat obat itu, obat itu berisikan levofloksasin, antibiotik golongan quinolon yang tidak aman untuk anak-anak.

Resistensi Antibiotik
Resistensi antibiotik adalah suatu keadaan dimana suatu jenis bakteri dalam tubuh manusia menjadi kebal sehingga tidak responsif terhadap antibiotik. Resistensi ini dapat berkembang secara alami melalui mutasi genetik pada bakteri atau bisa juga terjadi akibat pemakaian antibiotik yang tidak tepat.
Setelah gen resisten dihasilkan, bakteri tersebut dapat mentransfer informasi genetik pada bakteri lainnya melalui pertukaran plasmid. Mereka kemudian akan mewariskan sifat itu kepada keturunannya sehingga akan menjadi generasi resisten. Bakteri tersebut dapat memiliki satu atau lebih gen resistensi, bila satu kelompok bakteri memiliki kekebalan lebih dari satu antibiotik maka disebut bakteri multiresisten.
Resistensi antibiotik merupakan masalah yang sulit dalam dunia medis. Pengobatan untuk pasien menjadi lebih sulit ketika pasien tersebut terinfeksi bakteri yang resisten antibiotik. Beberapa jenis bakteri saat ini mampu menghasilkan enzim yang membuatnya jadi resisten terhadap antibiotik sehingga dapat menghancurkan kerja antibiotik. Akibatnya bakteri yang memiliki kekebalan kemudian dengan cepat berkembang biak dan menghasilkan koloni baru yang makin sulit dilumpuhkan. Karena itu para ahli berusaha membuat obat-obatan yang mampu menghambat produksi enzim tersebut agar antibiotik dapat semakin efektif.

Penyebab Resistensi Antibiotik
Penyalahgunaan antibiotik adalah penyebab umum resistensi antibiotik, misalnya penggunaan antibiotik untuk infeksi virus. Banyak orang yang menganggap antibiotika sebagai obat yang mampu menyembuhkan segala macam penyakit. Banyak pasien berharap atau meminta dokter untuk meresepkan antibiotik ketika terkena flu dan pilek. Padahal, antibiotik hanya untuk mengobati infeksi bakteri, bukan infeksi virus. Antibiotik hanya diperlukan bila sakit batuk pilek sudah ditumpangi infeksi sekunder oleh bakteri. Sebagian besar flu sebenarnya tidak memerlukan antibiotik.
Seperti halnya kasus diatas, masyarakat awam pun terbiasa mengonsumsi antibiotika dengan mudahnya hanya karena sedang menderita batuk, pilek, demam, diare atau gejala ringan lain yang sama sekali belum ditegakkan diagnosis klinisnya. Padahal gejala ringan seperti itu sebenarnya bisa diatasi dengan istirahat yang cukup, asupan nutrisi yang baik, dan dengan obat-obatan simptomatis untuk mengatasi gejala penyakit.
Selain itu, masyarakat juga sering menganggap sepele pemakaian antibiotika. Kebiasaan masyarakat yang tidak meminum antibiotika sampai tuntas karena merasa sudah sembuh. Misal, seorang pasien yang mendapat antibiotika sebanyak 15 tablet untuk pengobatan selama 5 hari, ternyata hanya mengonsumsi antibiotika untuk 2 hari saja karena merasa dirinya sudah sehat. Dosis antibiotik harus dihabiskan secara penuh, bila berhenti meminum antibiotik sebelum waktunya maka beberapa bakteri yang masih hidup akan menjadi resisten terhadap pengobatan antibiotik di masa depan.
Penggunaan antibiotika yang sembarangan merupakan faktor penyumbang terbesar terjadinya resistensi antibiotika. WHO juga menyebutkan kualitas obat-obatan yang rendah, program pencegahan dan pengendalian penyakit yang lemah juga mempercepat penyebaran resistensi antibiotika. Hal ini diperparah lagi dengan rendahnya tingkat penemuan antibiotika baru untuk membunuh bakteri yang resisten. Jika keadaan ini terus berlanjut, maka dapat dipastikan akan banyak penyakit yang tidak dapat disembuhkan di masa mendatang.

Dampak Resistensi Antibiotik
Masalah resistensi antibiotik terjadi oleh karena pemberian antibiotik yang tidak sesuai indikasi, dosis tidak adekuat, kombinasi antibiotik yang tidak perlu, serta antibiotik profilaksis yang tidak perlu. Resistensi antibiotik mengakibatkan pembiayaan yang besar, bayangkan ketika flu biasa diobati dengan antibiotika berlebih, hal ini menimbulkan resistensi. Adanya resistensi ini mendorong dokter untuk meningkatkan dosis, apabila peningkatan dosis ini tidak direspon baik oleh pasien maka akan timbul efek samping obat.
Adanya resistensi antibiotik dapat memperpanjang durasi sakit serta meningkatnya kematian. Ketika seharusnya pasien yang dirawat inap di rumah sakit sembuh dengan pemberian antibiotika standart selama 4 sampai 5 hari, karena tidak responsif terhadap antibiotika maka terkadang dokter harus mengganti antibiotik lain dengan durasi yang sama. Dokter cenderung harus menggunakan antibiotik yang lebih kuat dan lebih mahal untuk pasien tersebut. Tak jarang memburuknya kondisi pasien akibat infeksi berat karena tidak responsif terhadap berbagai macam antibiotik sehingga harus berakhir pada perawatan di ruangan ICU (intensive care unit).

Pencegahan Resistensi Antibiotik
Resistensi antibiotik pada bakteri bisa dikurangi dengan pemakaian antibiotik secara bijaksana dan rasional. Baik dokter maupun pasien dapat ikut berperan dalam mengurangi penyalahgunaan antibiotik. Antibiotik hanya digunakan ketika infeksi bakteri telah terjadi. Tanda inflamasi (peradangan) seperti demam belum tentu menunjukkan adanya suatu infeksi, ketika seorang anak tumbuh gigi juga terkadang badannya terasa hangat. Adanya infeksi dalam tubuh juga belum tentu infeksi bakteri sehingga penggunaan antibiotik bisa ditunda apabila tanda-tanda infeksi bakterial belum jelas.
Pemakaian antibiotik untuk infeksi virus bukan hanya membuang-buang biaya, tetapi dapat berefek meningkatkan resistensi antibiotik. Penyakit seperti batuk, pilek dan diare pada umumnya tidak memerlukan antibiotika karena disebabkan oleh virus sehingga dapat sembuh dengan sendirinya asal kondisi kekebalan tubuh pasien baik.
Penggunaan antibiotika harus sesuai dengan dosis dan jangka waktu yang diresepkan. Antibiotika yang diberikan kepada pasien telah dirancang untuk menyelesaikan satu episode pengobatan, setiap pasien harus menyadari bahwa antiobiotik harus tetap diminum sampai habis meskipun gejala-gejala penyakit sudah hilang. Jika anda tidak meminumnya dengan tuntas maka bakteri yang tidak mati karena antibiotika akan terus hidup dan berkembang menjadi bakteri resisten sehingga saat diberi antibiotika yang sama, anda tidak akan sembuh karena bakteri penyebab infeksi telah menjadi kebal.
Penggunaan antibiotika harus sesuai dengan petunjuk Dokter, terutama pengobatan untuk pasien dalam kondisi khusus, anak-anak, lansia, ibu hamil dan ibu menyusui. Dokter anda akan memilihkan antibiotik sesuai dengan kondisi sakit anda sehingga aman dan efektif. Apabila anda memiliki suatu alergi terhadap antibiotika, ingatlah jenis antibiotika tersebut dan ingatkan pada dokter kalau anda memiliki alergi terhadap obat tertentu. Dokter akan memberikan alternatif pengobatan yang sesuai dengan kondisi sakit anda.
Jangan sembarangan mengonsumsi antibiotika apalagi membeli antibiotika secara bebas tanpa resep dokter. Belilah antibiotika yang sudah diresepkan pada anda di apotek agar terhindar dari resiko membeli obat palsu atau obat yang tidak berkualitas. Saat menebus resep di apotek, tanyakan kepada apoteker manakah obat yang mengandung antibiotika.
Jika antibiotika yang anda minum telah habis segera hubungi Dokter. Jangan langsung membeli antibiotika berdasarkan resep dokter terdahulu, karena kondisi sakit anda yang sekarang jelas berbeda dengan kondisi sakit anda yang terdahulu.

Pencegahan resistensi antibiotik yang efektif adalah dengan mencegah penularan infeksi baik oleh masyarakat ataupun oleh tenaga medis di rumah sakit. Apabila infeksi tidak ditularkan ke orang lain maka secara tidak langsung pemakaian antibiotik akan terbatas.

Masuk Surat Kabar, media massa dan Sastra

Dahulu kala saya bercita-cita ingin jadi penulis juga, berkali-kali saya menulis cerpen ehhh, ga ada majalah yang tertarik nampilin karyaku, padahal aku ga minta bayaran, cuma pengen karyaku dipasang di majalah atau koran....
Seiring berjalannya waktu.....
Sehabis jaga malam, saya di undang ikut acara bakti sosial di sebuah Gereja di kota Semarang acara paskah, kebetulan ada pengobatan gratisnya. Saya pikir waktu saya di foto2 itu buat dokumentasi biasa. Keesokan harinya temen saya menelfon saya, kalau saya masuk koran. saya langsung cepet-cepet beli koran Suara Merdeka deh, kubolak-balik halamannya, dan jeng..jeng fotoku yang habis jaga malam, hahahahaaa, tapi untungnya fotonya hitam putih, jadi aku ga kelihatan kucel apa kaya kurang tidur kan, hihihi

Setelah itu, Ini pertama kalinya ada ulasan tentang saya di koran, agak bangga sih, hehehehe, waktu itu saya masih berumur 26 tahun dan disitu lengkap ada data saya semua, haahhaa.

Ini foto saya waktu sebelum saya masuk rumah sakit, masih cantik, wkwkwkwk, mungkin karena belum ketempelan kuman-kuman rumah sakit, hehehe bercanda, di sebuah majalah lokal, rutin mengisi artikel di majalah ini, kadang inget kadang enggak, Nek ga inget paling ya pak Bayu sang marketing sekaligus pemimpin redaksi akan mengoyak2 agar artikel segera dijadikan

Akhirnya bakat sastraku ada yang menampung juga, hehehee, sekarang ketika menulis artikel, saya dibayar, ga banyak sih, yang penting bakat saya tersalurkan, Terimakasih Tuhan

 menjadi Tim P3K saat expo HUT GKJ di daerah salatiga, susu kambingnya enak banget waktu expo, banyak dijual makanan, kesenian dan berbagai hal yg unik2 dari tiap daerah

ini foto saat saya mengisi ceramah di klinik tumbuh kembang anak di RS swasta di Semarang