Rabu, 20 Juni 2012

Angsa, si gembul dan perjuangan untuk tidur


Untuk si gembul (*bukan nama sebenarnya), jangan tersinggung ya *nama ini kan pemberian merak.  Ada banyak kisah lucu, aneh bahkan ajaib…here we go…
Hari itu aku jaga malam menggantikan si gembul yang jaga pagi. Si merak mengatakan kalo si gembul ngilang pas jaga. Maka dia dihukum si merak cari makanan. Tapi karena tiba2 di UGD ada banyak makanan. Maka aku disuruh untuk menelpon agar si gembul gak usah beli makanan.
Tapi tiba2 tengah malam ketika makanan telah habis, merak berkata “mana si gembul, kok gak kesini bawa makanan”. Pikir ku -loh piye to katanya gak jadi ???

Beberapa hari kemudian, hari itu seharusnya aku tak ada disini, craniotomy bersama si gembul. Hari itu aku dihukum jaga hingga pagi karena ada miskomunikasi masalah per’jaga’an. Aku yang gak persiapan jaga (capek soalnya kemaren habis jalan2, berharap hari ini bisa tidur di singgasanaku, eh malah tidur di kamar koas UGD, cm sejam lagi), agak males kalo mesti ikut operasi.
“mbul, kamu aja ya as-op nya” setengah memohon *dengan tanda seru dibelakangnya !!!!!!!
“ya, kak” si gembul setia kawan juga, mungkin kasian sama angsa…
Tiba-tiba si merak bilang… “dek yang masuk OK, satu lagi”. jeggggggeeeeerrrr *Bagai disambar petir diriku setelah combutio ec sengatan listrik…
Maka aku pun masuk sebagai photografer bersama si gembul tentu saja. Si gembul beruntung banget gak jadi as-op, kerjaannya Cuma ngantuk2 aja, kerjaanku yang seharusnya aku bisa hecting ato WT diluar jadi ngurusin cm, masang foto CT, jeprat-jepret dengan kepala sebagai  modelnya.
Di OK, sang operator tiba, masuk ruangan dan menanyakan padaku “koas grup ini ya?”
Tanpa menjawab aku pun mengangguk sambil tersenyum lebar (selebar apapun aku tersenyum tetap gak akan kelihatan karena tertutup masker> tumben banget ditanyaain sama sang phoenix, rasa pedih ku udah agak terobati dengan ‘formula bexter’ (analog dengan sapaan sang phoenix).
Sang operator bersama 2 asisten lainnya, sesekali mereka menyuruhku memotret dengan angle tertentu. tapi entah kenapa aku masih merasa beruntung hari itu aku bisa melihat clot di dalam tempurung kepala. Aku berdiri disamping sang operator. *maklum ndeso baru pertama kali craniotomy.
Jepret “ jangan di foto dulu dong kan belum saya bersihkan. Kamu juga gak mau kan saya foto kalo belum dandan”, aku Cuma tersenyum lebar. Hal ini untuk menutupi mata ku yang udah menutup karena ngantuk. Udah jam 1 malam, operasi belum selesai juga. Udah mulai ngantuk. Aku mulai duduk dikursi bersandar ke dinding, mata merem, tapi telinga harus ON sapa tau dipanggil *ini adalah kecanggihan yang harus dimiliki oleh seekor angsa.
Aku menyadari kayaknya asisten anest juga butuh tu kursi. Maka kuserahkanlah tempat tidurku itu *dengan berat hati. Akhirnya aku bersandar di dinding, dibelakang lemari tempat obat anest, mlorot, senderan, selonjor lagi *wah ini pewe banget tempatnya.
Kuperhatikan dari tadi, si gembul udah gak Nampak di dalam OK. Kemanakah dia? Masak di OK bisa ilang kan gak mungkin. Ku lihat di kolong bed si ikan berbaring, siapa tau si gembul ngumpet di sana. Gak ada juga.
“kamu kasihan banget sih dek, ngantuk banget, ya udah kamu tidur aja. Biar si gembul yang ada disini”, “lho mana si gembul”
“???”
“temen mu itu memang mafia owg!!”, “seharusnya sebagai dokter kita harus menunggui pasiennya hingga keluar dr kamar operasi, karena kamu udah capek kamu keluar duluan aja”
“gak papa pak saya temenin (T.T)”
“gak papa keluar aja dulu, gantian tidur sama temenmu”
Dengan terharu aku keluar dr OK menuju UGD, bagai terkena serangan jantung. OMG pasiene akeh banget. Akhirnya HT dan WT. dalam hati aku menjerit “kapan aku tidure???”
Siangnya pengesahan hingga jam 11 siang. Tapi banyak ilmunya.
“lo mana si gembul??” kata si merak
Perasaan tadi sudah kubanguin deh…. Zzzzzingggggggggg……………

Entah kenapa aku sering banget bareng sama dia, bahkan dari saat di grup Ahli mimpi.
Saat di grup ahli mimpi, waktu itu kita jaga di bank-R berdua, aku datang belakangan, belum juga duduk. Aku udah disuruh ke VK setelah itu ke radium- trus ke VK lagi. Ada 4 program dan si gembul gak ikut karena dia ada tugas mbantuin buat PPT. sekalinya gantian (aku yang gak ikut) ada program CVP gak jadi karena si gembul yang ikut. *kayaknya dia emang ditakdirkan untuk ongkang2.

Jaga di grup ahli mimpi. Tok..tok…tok… Intubasi ruangan. Intubasi ruangan yang mengharukan karena si ikannya jelek banget berakhir dengan +. Si gembul gak ikut. Balik ke kamar jam 10 malem dan kulihat si gembul udah tidur dengan lelapnya. Kemudian kami di oper ke UGD.
Di UGD. Jam 11 malam. Si merak berkata “ kamu tidur aja, gantian ya” lalu si merak pergi.
“kak, ka2k kan udah intubasi ruangan nanti biar aku yang laparotomi aja, aku tidur duluan ya kak”
Logis sih. “ya udah duluan aja” kebetulan ada program laparotomi jam 2 pagi. Aku gak usah ikut ah.
30 menit kemudian. Aku masih belum ngantuk karena baru liat si ikan +. Tiba-tiba dari arah belakangku. “loh kamu kok belum tidur, lha temenmu mana? Dia yang tidur duluan?? Ya udah kamu tidur aja, biar saya yang jaga”
“gak papa, saya belum ngantuk” si merak pergi dengan mata merah
15 menit kemudian, dia datang lagi. “udah kamu tidur aja sana”
“bentar lagi, nanggung bukunya belum selesai dibaca” dengan posisiku membaca buku reanimasi itu.
15 menit kemudian, dia datang lagi. “udah kamu tidur aja sana”
Karena udah malas jawab, akhirnya aku senyum aja. Dia pergi lagi.
15 menit kemudian, dia datang lagi “udah ka…” belum sempat dia melanjutkan ucapannya
Aku langsung berdiri dan menutup bukuku “iya pak saya tidur saja”. Sebelum ada 15 menit yang keempat kelima dst… *padahal kayaknya si merak mau bilang “udah ka…mu masuk OK aja…” hihihi, aku kok jadi kepedean tidur ya///
Aku pun pergi ke kamar. Loh si gembul kok gak ada. Ada yang bilang “sa, itu lo partner mu tidur di mushola”,  deg…ya ampun kasihan banget si gembul, mungkin dia sudah berusaha tidur di kamar ini, tapi diusir oleh para angsa yang lain. Aku pun sempat mau diusir karena kami dianggap menuh2in tempat. Tapi gak mungkin juga kalo aku tidur di mushola bareng si gembul, gak mau lebih tepatnya. Akhirnya dengan bodi 46 ini aku berhasil nyempil2 tidur di bed teratas. Huft.
Aku dibangunkan untuk laparotomi. Mungkin orang itu berniat untuk merebut tempat tidurku. “udah ada yang masuk kok”. Memang terkadang terdapat pertempuran sengit untuk mendapat tempat tidur.

Jadi ingat pernah suatu saat aku gak dapet tempat tidur, dengan sangat mengenaskan aku tidur di ruang tindakan dengan lumuran ceceran darah disekitarku bekas HT dan WT. tapi kalo udah ngantuk rasanya kaya tidur di hotel bintang lima meski Cuma setengah jam (mengenaskan sekali jaga Cuma tidur setengah jam, mana keesokan harinya pulang jam 9 malam). Kayaknya bisa masuk MURI ni melek 40 jam. Semua ini kulakukan demi ikan. Beruntung sekali wahai kau ikan…
kasihan juga si gembul harus ikut laparotomi hingga jam 4 pagi, kata angsa ve dia kan gak tahan penderitaan. Jam 6 pagi ada SC maka sebagai itikat baik. Biar aku aja yang masuk OK.
Emang dasar. Kalo niat baik itu pasti berbuah manis. Durante op. 2 angsa ambisius akhirnya masuk OK. Aku benar2 beruntung mereka datang pada injury time. Ngapain ber3 di OK mending aku mandi dulu aja...

Purwodadi--Dirumah angsa wid



Atas permintaan lisan dari angsa wid pangkat angsa tahun kedua, NIP G2A0091**, maka akan saya ceritakan tentang apa yang saya lihat dan saya temukan atas rumah tempat tinggal angsa wid di PWDD, sekitar 2 jam dari semarang. Tujuan permintaan penulisan ini adalah atas dasar promosi agar pembaca yang tertarik dapat berkunjung ke rumah angsa wid. Seru lo…

Busway trans semarang
20 Februari 2011. Busway adalah sarana transportasi yang bisa dibilang baru di semarang. Emang udah bertahun-tahun sih. Tapi baru kali ini bisa mencobanya. Tiketnya 3500 jauh dekat sama saja. Sistem nya sih kaya ada bus stop nya cuma berhenti di tempat-tempat tertentu. Nyaman sih, ada AC nya, gak terlalu panas, karena pintunya tinggi banget jadi mesti naik dari bus stopnya, trus ada kaya jembatannya gitu yang diselorotin ke bustopnya so para penumpang bisa pada naik ke busway. Tempat duduk sangat minimal, jadi kebanyakan pada berdiri, ada pegangannya gitu. Guncangannya bok bikin tangan eritem, eritema Palmaris, tanda dari apa hayo??

Bus Besar
Katanya kalo bisnya besar berarti mau ke pwdd. Jadi pilih aja bus yang paing besar. Naik bus, duduk di sebelah sayap kanan, diatas ban. Awalnya aku takut banget cos aku kan mabuk darat, apalagi kalo bus nya model damri, tapi ternyata gak ada apa-apa syukurlah. Sempat mulek-mulek soalnya banyak yang ngrokok di belakang. Disetengah perjalanan terakhir, ada orgil yang duduk disebelah kiriku. Bangkunya ada tiga, dengan urutan orgil, aku, angsa wid. Pertamanya gak begitu yakin apakah benar yang disebelahku orang gila. Tingkahnya agak aneh, ngomong gak terlalu jelas, logore pula. Karena kucuekin maka tu orgil mulai bertingkah aneh, mlorot, tidak tenang dan yang paling membuatku tidak tenang adalah dia mulai gelayutan di pundakku. Males juga digodain, sama orang gila lagi. Mau pindah susah, mau teriak mempermalukan diri, mulai cari cara untuk menjinakkannya, aku sudah terlatih di RSJ kan, bisa sambil belajar juga. Mulailah kuajak ngobrol.
Orgil ngredumel. Kupikir orang mabok, karena kalo mabok kan ngredumel juga. Tapi gak bau alcohol. Masnya ada hendaya dalam perawatan diri, keliatan sih gak pernah mandi ato gaya punk, rak jelas. Aku lupa memulainya dengan apa.
“mas  nya punya kelebihan gak kalo dibandingin sama orang lain, bisa lihat sesuatu gitu..?”
“bisa sih tapi gak boleh diceritain kesiapa-siapa.”
“dari smg tadi ngapain”
“ketemu bidadari…bla…bla” suarane gak jelas
Aku jadi teringat akan kisah tujuh bidadari dan jaka tarub “ ada 7 mas bidadarinya?”
“ bidadarinya ada 4, semuanya cantik-cantik, bla- bla…..”, “saya udah punya anak mbak, anak saya masih kecil (dia sambil memperagakan menggendong anak), baru kemaren lahir”
Kemudian dia cerita lagi kalo itu anak saudaranya (plin-plan), dia sudah duda selama 15 tahun, sekarang usianya 12 tahun (kok bisa? Non realistic), (padahal sih usianya sekitar duapuluh tahunan, masih muda.
Aku mengerutkan dahi, kok kayaknya agak mustahil d, dia lalu bilang, “kenapa? Gak percaya, gak percaya, gak percaya?” (dia ngulang-ngulang itu terus verbigerasi kali ya, setiap dirasa aku kurang percaya”
“pekerjaan saya adalah sebagai pengawal, saya mengawal semua orang yang ada di bus…bla…bla…bus ini yang punya teman saya, bla-bla….”
Pada intinya sih dia ngerasa kalo banyak dipuja wanita, dia mulai mengeluarkan hp nya, nokia jadul, trus aku ditunjukin sms, entah dari mana, pemujanya katanya, aku disuruh baca. Masalahnya adalah aku tak bisa membacanya karena gak bawa kacamata dan kedua karena di bus apalagi jalan menuju pwdd kaya naik naik kereta kuda, walhasil aku tak tau apa isinya, dia menyuruhku membaca seluruh inbok nya. Hosh capek deh. Kupegangin hp nya lama banget, untunglah aku tak berniat jahat mencopet hpnya, gak laku juga masalahnya.
Dia mengeluarkan barang-barang yang agak mencurigakan, cologne gel dan krim pemutih merek ya lumayan terkenal lah, semuanya barang wanita. Dari bentuknya sih masih baru. Dia mulai menawariku, aku menolak, males banget pake wangi2an yang sama dengan orgil. Tapi karena dia pakenya agak lebai jadinya nyiprat-nyiprat ke tasku
Nah dari penjelasanku tadi? Maka diagnosis dari orgil di bus adalah?
a.       Orang normal yang pura-pura gila supaya bisa kenalan sama koas cantik
b.      F.20.0
c.       F.20.1
d.      F.20.2
e.      F.20.3

At home
Pertama kali datang ke rumah, rumahnya luas banget. Rumahnya dibagi dua, sebelah kiri untuk BP sebelah kanan untuk tempat tinggal. Di depan rumah ada tulisan “balai pengobatan dan rumah bersalin ngudi waras- jalan solo km 7”, BP nya lumayan rame, ibu angsa wid ternyata banyak penggemar. Baik bapak dan ibu angsa wid ternyata orang kesehatan juga. Ada VK nya juga beserta 3 kamar untuk rawat inap.
Mulai dari halaman depan. Banyak pohonnya dan taneman2 gitu, ada air terjun2an, ada kolamnya gitu. Berbagai jenis tanaman kayaknya ada, baik yang di pot atau di tanam di tanah. A lot of green lah pokokke. Aku gak terlalu tahu jenis tanaman, jadi ketika diterangin angsa wid, ya manggut-manggut aja, kata wid tanaman ini udah lumayan berkurang disbanding dulu, mungkin yang dulu kaya hutan kali ya. Pager minimalis, yang didepan BP gak ada pagernya, jadi agak medeni padahal dua mobil wid terparkir disitu.
Teras rumah. Ada meja kursi. Ya kaya teras pada umumnya. Yang unik adalah dinding depan rumah. Mulai dari ujung kanan, tembok nya gaya batu-batuan air terjun, selanjutnya batu2an juga namun warnanya lebih gelap kata batu pualam kali ya, trus mozaik pattern diatas kaya ubin gitu, yang ini ada tiga sampai empat jenis, ada tembok berlubang menyerupai pola gitu (susah dijelaske), kata wid hal ini dikarenakan berbeda tahun pembuatannya.
Ruang tamu. Banyak keramik2an, hiasan rumah, detail, ada yang terbuat kaya dari giok2an yang warna putih itu lo, batu pualam kali ya (embuh lah bukan ahli keramik), terlalu penuh malah, selera orang berbeda, kalo aku sih suka rumah yang gak terlalu banyak asesorisnya.
Ruang keluarga. Na ini yang paling seru. Ada banyak foto keluarga. Baru kutemui disini, sebanyak ini, hal ini menunjukkan identitas pemilik rumah, sekaligus mengingatkan sejarah kehidupan dari masing-masing angota keluarga, kaya di galeri foto lah, gak bakal bosen, ada foto angsa wid pas lagi kecil, selebihnya sih foto wid sama aja, kayaknya awet muda deh. Wajahnya gitu-gitu aja, gak brubah.
Kamar tidur, totalnya sih ada empat kalo gak salah. Kita tidur di kamar paling dalam. Kasurnya spring bed. Salah satu ciri kamar yang nyaman adalah kamar yang bisa membuatku tidur nyenyak. Dan saya tidur dengan amat sangat nyenyak dari jam 9 hingga jam 6 pagi. Hihihi. Gak sopan ya.
Dapur. Ya kaya dapur. Ada ruang makannya juga. Padahal gak pernah aku makan di meja makan, walau di rumah ada meja makan. Lebih suka di depan tv. Era modern mungkin. Tapi kalo ditempat wid sebaiknya sih makan di meja makan aja, soalnya gak bakal sempet kalo disambi nonton tv, soalnya sekali makan menunya lebih dari 5 macam, jadi sibuk ngincipi.
Makan malam. Makan sate kambing, jamur goreng, bukan mie biasa, tahu, apalagi ya saking banyaknya jadi lupa. Maksudnya bukan mie biasa itu mie nya ada sosisnya, ayamnya serta aseroris lainnya. Kalo makan ditempat wid, gak usah malu-malu, ntar malah disuruh nambah terus lo, setiap menit secara bergantian bapak dan ibu angsa wid, menawari makan ini itu, nambah, buah.
Makan pagi. Jam 6 pagi aku terbangun karena mendengar “ngieeekkkkkk…”, kayaknya sih suara ayam tewas tersembelih. Sepulang dari gereja baru deh sarapan. Sarapannya kaya gala dinner. Ada pindang campur sate, kering tempe, tahu, jamur, telur, gudangan, bagian dari ayam, telur, dan lain-lain (sampe gak inget) plus karak solo. Habis makan gala dinner jadi ngantuk berat karena darah yang seharusnya dipompa jantung ke otak harus dialirkan ke perut untuk proses pencernaan à jadinya somnolen deh.
Aku jadi ketiduran di kursi panjang yang ada di ruang keluarga soalnya kan tiduran sambil nonton tv, akhirnya karena ngeliat muka bantalku maka ibu angsa menyarankan tidur dikamar. Langsung dek ke kamar. Zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz. Jam satu bangun untuk makan siang. Kali ini kembali ke habitat, makan didepan tv, ditemenin ayam n sop n kering, sebenarnya masih banyak menu lainnya di meja.

Kereta api
20 Februari 2011. Kata mother aku dulu udah pernah naik kereta, waktu masih orok. Ya jelaslah aku gak ingat. Maka setelah aku mendapatkan keberanian maka aku bersama angsa wid tour ke pwdd, pulangnya naik kereta. Blora jaya ekspress. Nyegat keretanya di stasiun Ngrombo, stasiun kecil, jaraknya sekitar 30 meter dari rumah angsa wid, alias didepan rumah angsa wid, cedak banget. Harga tiket 15rb. Sepanjang perjalanan adanya sawah. Dapetnya tiket berdiri, gak ada tempat duduk, akhirnya setelah setengah jam berdiri akhirnya kami gelesotan juga di dalam kereta. Penumpang lainnya juga gelesotan juga akhirnya setelah desperate karena gak bakal dapet tempat duduk. Keretanya lumayan bagus sih modelnya, bayanganku kereta ekomomi itu kayak bus damri tahun 76 yang udah sempal n gak bangetlah, tapi ini interiornya berwarna orange sampai dengan lantainya , pintunya juga gak rusak, masih bisa nutup otomatis. Pintunya tingginya sekitar satu meter, jadi orang sakit jantung mending gak usah naik kereta. Udah kaya koboi aja cara naiknya dibantuin angsa wid, yang kebetulan dia lumayan professional kalo naik kereta. Setiap kali di stasiun, kami berhenti cukup lama, usut punya usut ternyata kereta ekonomi harus ngalah membiarkan kereta bisnis ato eksekutif untuk jalan duluan. Akibatnya kita telat 45 menit sampai di stasiun poncol, aku sih seneng-seneng aja, naik keretanya jadi tambah lama, tapi biayanya sama aja. Hihihi. Setelah sampai poncol, di peron, lumayan banget peron nya kaya di film harry potter, jelekan dikit. Banyak yang njemput kita ternyata, hahaha, ada tukang becak, tukang angkot, tukang taxi. Kita tinggal pilih mau dianter siapa.

Taxi
Pulangnya naik taxi, biasa aja

Minggu, 17 Juni 2012

Angsa dan Mitos Per`koas`an


Namanya mitos emang gak masuk logika. Bahkan mitos berkembang pesat di lingkungan para dokter yang IQ nya di atas rata-rata.
Kamar jaga koas kulit. Katanya ada hantunya anak-anak, ada koas yang pernah diweruhi. Emang sih kamarnya agak serem, banyak koas yang takut kalo mesti nginep disitu. Dan entah kenapa kalo jaga malem disana jam 2 malem pasti kebangun.

Lift anak. Katanya serem dan suka aneh liftnya. Terutama kalo malam dan harus naik ke lantai tiga. Suka mbuka sendiri, suka naik ke lantai tiga sendiri. Kadang kalo kita mencet tujuan kita mo kemana, ternyata setelah pintu lift kebuka kita tetep berada di lift yang sama. Hal ini emang pernah aku alami, tapi mau gimana lagi, jaga anak capek banget apalagi kalo ditambah naik tangga, masalahnya kadang 1 jam sekali harus bolak-balik ke PICU_NICU, HND atau PBRT, cuek aja, kayaknya udah gak peduli karena capek mengalahkan segalanya.

Pojok kematian di bangsal anak. Aku lupa dikamar nomer berapa di bangsal anak, tempat tidur yang deket kamar mandi, yang paling pojok di sisi kiri. Kata residen kalo pasien tidur disitu pasti mati. Nek menurutku sih karena pasiennya emang udah jelek. Katanya sih pernah suatu kali ektrim banget seorang pasien yang kondisinya jelek dan tidur disitu, karena para residen takut banget sama laporan kematian, maka memindahkan pasien tersebut.

Kamar mandi interna. Terdiri dari dua buah kamar mandi yang on, yang satu lampunya neon, yang satu lampunya bolam 10 watt warna kuning. Kata anak-anak kamar mandi yang lampunya kuning itu ada hantunya, makanya para perawat gak ada yang mau mandi disitu. Justru ini kamar mandi kesukaanku karena aku bisa mandi lama tanpa digedor-gedor.

Timbangan forensik. Disebut juga timbangan pembawa visum dimana kalo nimbang disitu maka visum akan banyak datang. Tapi entah kenapa ya, emng bener kalo habis ada yang nimbang di timbangan itu pasti visum berdatangan. Mungkin kebetulan.
Koas pembawa pasien. Di kalangan para koas ada yang disebut koas pembawa, yang kalo jaga suka membawa pasien, pasiennya jadi super banyak, sehingga hampir semua tim jaga gak bisa tidur. Sebenarnya kasihan juga koas ini, atau lebih tepatnya koas yang jaga bareng sama dia, karena gak bakal ada koas yang mau tukeran jaga bareng koas pembawa, kecuali kepepet.


Jaga bayangan

Jaga bayangan adalah koas yang tugasnya menjadi bayangan dari koas yang tugas jaga. Ide ini muncul karena ternyata koas tidak dapat membelah diri, makanya pake jurus bayangan aja. Karena tugas jaga yang banyak banget sedangkan para koas tidak dapat membelah diri, maka jaga bayangan adalah solusinya. Jaga bayangan ada pada stase besar biasanya misalnya Anak, tugasnya sih mbantuin beging, gimana gak ada jaga bayangan, la wong tim koas harus membantu di PICU-NICU, bangsal, PBRT, HND bahkan di UGD kalo diperlukan (untuk jaga junior), kalo jaga senior sih biasanya gak ada jaga bayangan. Ada lagi jaga bayangan Neuro, tapi pas aku sih gak ada karena untungnya pas sepi beging.

Koas Pato
Pato berasal dari kata patologis, gelar diberikan para koas yang patologis, yang namanya patologis ya berarti gak fisiologis, artinya tidak sesuai dengan kodratnya sebagai koas, misal datang terlambat, gak pernah ke poli, kalo jaga pulang. Asal selama tidak merugikan orang lain (koas lain) sih gak masalah, kalo bermasalah koas tersebut harus dibasmi, maksudnya diluruskan.
Koas pato bisa berarti koas yang sangat rajin. Dateng satu jam sebelum yang lain datang, pulang setelah rumah sakit sepi, ini juga pato karena gak sesuai dengan kodratnya. Nambah ilmu sih gak masalah cuman kalo Cuma nambah capek, sumpek liatnya.